IPB Univeristy tidak hanya menargetkan kuantitas dalam publikasi ilmiah, namun juga berupaya mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah para dosen dan mahasiswa. “Saat ini IPB University akan menyeleksi jurnal-jurnal yang ditargetkan untuk Q1 dan Q2 artinya secara konten sudah sangat bagus akan diberikan layanan untuk Enago Academy” demikian disampaikan Direktur Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS), IPB University Dr. rer. agr. Eva Anggraini, SPi, MSi, dalam acara yang berjudul Author Workshop on Academic Writing and Publishing (1/7) bertempat di Gedung Andi Hakim Nasoetion (AHN), Rektorat IPB University.

Workshop ini diselenggarakan oleh IPB University bekerjasama dengan Enago Academy. Enago Academy sudah bekerjasama dengan IPB selama hampir 2 tahun untuk membantu publikasi ilmiah mulai dari editing makalah, formating, meningkatkan kualitas Bahasa Inggris yang digunakan dalam makalah, mengirimkan naskah ke reviewer dan memfasilitasi tanya jawab dengan reviewer, sampai kepada publikasi makalah ke jurnal internasional yang terindex database jurnal internasional di dunia seperti elsevier, thomson reuter, dll. Nicole Arya menjelaskan tentang Enago Promise “bahwa 100% artikel tidak akan ditolak hanya karena alasan format dan bahasa dan posisi Enago Academy sebagai eklusif partner IPB University akan memberikan harga khusus sesuai kesepakatan dengan IPB” jelasnya.

Workshop ini dihadiri sekitar 300 peserta mencakup dosen, mahasiswa, dan peneliti. Antusiasme peserta dalam acara ini sangat tinggi ditandai dari banyaknya pertanyaan dan apresiasi yang diajukan peserta. Narasumber yang dihadirkan dalam acara ini adalah Prof Michael Prieler, merupakan professor di Hallym University, Korea Selatan, sekaligus juga sebagai dewan editor di beberapa jurnal internasional yang terafiliasi dengan beberapa lembaga publikasi ternama.

Dengan aksen Jermannya beliau menjelaskan materi yang berjudul Introduction to Academic Publishing – Writing, Submission, and Successful Publication pada sesi satu dan How to boost your citation pada sesi 3. Struktur penulisan karya ilmiah pada dasarnya mengikuti format IMRAD dimana karya ilmiah terdiri dari Judul, Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Hasil, Diskusi, dan Bibliografi (Referensi). Judul harus ditampilkan secara spesifik dan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan penelitian. Abstrak harus dapat meyakinkan pembaca untuk tetap membaca artikel sampai tuntas dan memperkenalkan hal-hal penting dalam isi naskah. Pendahuluan juga dapat berupa miniatur artikel, ringkas dan terarah, tertulis tujuan penelitian dan apa bedanya artikel ini dengan artikel lain, serta dapat menjelaskan hasil dan proses penelitian serta dapet menjelaskan alasan dilakukannya penelitian, jika tidak maka editor tidak akan teretarik untuk mereview. Literatur Review terbagi menjadi bagian isi dan kesimpulan, harus dijelaskan secara deskriptif literasi yang dipilih beserta alasannya. Metode menjelaskan teori yang mendukung penelitian, detil koleksi data, protocol untuk mengkoleksi data, detil desain penelitian dan data samplenya jika da, metode komputasi yang digunakan untuk mengelola data dana metode untuk menganalisis data. Hasil/Result harus berisi outcome yang relevan dengan pertanyaan penelitian dalam pendahuluan, data digambarkan dalam grafik, gambar, dan tabel. Kesimpuland disajikan dalam bentuk gambar dan tabel dari data yang diolah, diberi penekanan pada hasil yang paling signifikan dan mendukung hipotesa dari kesimpulan penelitian. Pada bagian Diskusi tujuan penelitian ditegaskan lagi secara jelas dan logis, yangterpenting adalah dapat menunjukkan ide central penelitian. Ingatkan pembaca adanya keterbatasan penelitian, dan akan dikembangkan pada penelitian berikutnya. Kesimpulan harus berisi brief summary lingkup penelitian dari topik penelitian yang dipilih.

Sedangkan pada sesi tiga dijelaskan beberapa langkah strategis kekinian untuk meningkatkan sitasi bagi artikel ilmiah yang akan dipublikasikan yaitu melakukan diseminasi, diskusi, dan track progress. Tips mudah yang didukung teknologi saat ini yaitu dengan menggunakan jejaring sosial media, gunakan jejaring profesor (seperti LinkedIn), upayakan dibuat lebih mudah diakses dan bergabung dalam Open Researcher and Contributor ID (ORCID). ORCID adalah lembaga non-profit, organisasi berbasis masyarakat terbuka untuk menciptakan dan memelihara registri pengenal peneliti yang unik dan metode transparan dalam mengkaitkan kegiatan ilmiah. ORCID (http://orcid.org) mengatasi masalah yang dihadapi author yang sulit dikenali karena kebanyakan nama pribadi tidak unik, perbedaan budaya nama, singkatan dan sistem penulisan. Selain itu peneliti/penulis perlu menjaga konsistensi dalam penamaan dan penulisan nama dan email institusi untuk setiap karya ilmiah yang akan dipublikasikan.

Prof Michael Prieler menambahkan bahwa beberapa alasan artikel ilmiah diterima adalah originalitas ide penelitian, ditulis dengan baik sesuai format dengan menggunakan bahasa inggis dan grammer yang baik dan benar, memiliki manfaat yang sangat luas, dan menerapkan teori yang tepat dan diterapkan dalam penelitian. Sedangkan terjadinya penolakan pada publikasi ilmiah antara lain karena bahasa Inggris yang buruk, design penelitian tidak didukung dengan investigasi, pernyataan masalahnya tidak tepat, metode tidak dideskripsikan dengan baik, hasilnya terlalu berinterprestasi secara berlebihan, data statistik tidak lengkap, datanya membingungkan, kesimpulan tidak didukung oleh data, literasi yang digunakan tidak lengkap, tidak akurat dan bukan penelitian terkini. Prieler menganjurkan untu terus berusaha memperbaiki dan ikuti saran perbaikan dan komentar dari  reviewer. “jangan frustasi dan emosional kepada editor, butuh waktu untuk dibaca kembali dan lakukan perbaikan” tegasnya.

Eva Anggraini berharap menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya IPB University dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah para dosen dan mahasiswa IPB. Kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan mandat yang diberikan kepada DPIS-IPB yaitu untuk mendorong dosen dan mahasiswa IPB meningkatkan publikasi ilmiahnya. Disamping kegiatan ini, Dr. Eva menjelaskan bahwa DPIS-IPB juga menyelenggarakan program-program lain dalam bentuk capacity building, yaitu: 1) Klinik Publikasi, 2) Pelatihan Penulisan Publikasi Ilmiah (dilaksanakan rutin), dan 3) Kursus Daring. Dr. Eva berharap dosen dan mahasiswa IPB dapat memanfaatkan dengan baik setiap layanan yang disediakan DPIS-IPB. “Saat ini IPB memiliki klinik publikasi yang dapat memberikan support dan layanan untuk mahasiswa dan dosen dalam bentuk diberikan layanan untuk formating manuscript dan language editing jika memang qualified untuk di publikasikan dalam jurnal internasional di posisi Q1 dan Q2”. Klinik publikasi IPB dapat diakses di halaman http://klinikpublikasi.ipb.ac.id/. (YDI)