Luruskan dan teguhkan niat, maksimalkan ikhtiar, dan sempurnakan tawakal

Month: August 2019

Antisipasi Low Back Pain dalam Dunia Kerja di IPB University

Hasil analis Medical Checkup tahun 2018 terhadap seluruh pegawai IPB menunjukkan bahwa keluhan terbesar yang dialami adalah nyeri pinggang atau dalam istilah kedokteran disebut Low Back Pain (LBP). Direktorat Sumberdaya Manusia (Dit SDM) IPB University bekerjasama dengan PT Asuransi Takaful Keluarga menyelenggarakan Seminar Kesehatan bertajuk “tetap sehat dan bugar di usia lanjut” dengan tema ‘Antisipasi Low Back Pain (Nyeri Pinggang)’ bertempat di RS Senat Gedung Rektorat lantai enam (15/8).

Narasumber dalam seminar ini menghadirkan dr. Yenni, Sp.KFR yaitu seorang spesialis kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Rumah Sakit Vania salah satu provider dari PT Asuransi Takaful. Menurut dr Yenni beberapa faktor resiko LBP terjadi pada beberapa kondisi yaitu sering angkat berat, pekerjaan menarik atau mendorong benda berat, sering duduk dalam waktu lama, menggunakan sepatu dengan hak  tinggi, postur tubuh yang  salah saat duduk, berdiri dan tidur. Selain itu LBP beresiko pula pada orang gemuk, orang tua dan faktor stress. Beberapa penyebab terjadinya LBP yaitu adanya proses penuaan, terjadi peradangan & infeksi, metabolik, keganasan, trauma, kejiwaan, postural dan mekanik. Keluhan penderita LBP adalah nyeri pada daerah punggung dan  pinggang, lipatan paha dan menjalar sampai tungkai-kaki. Keluhan lain yaitu kram pada tungkai- kaki  dan kelemahan pada tungkai-kaki. “Untuk mencegah LBP ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu lakukan proteksi punggung bawah, harus selalu diingat punggung bawah kita berada dalam keadaan selalu lurus. Jangan berada pada posisi yang sama dalam jangka waktu yang lama. Hindari stress/ kecemasan berlebihan dan kelelahan. Bila sudah mengalami nyeri punggung bawah , datang ke dokter SpKFR untuk melakukan pemeriksaan. Perbaiki nutrisi, hindari berat badan yang berlebihan. Jangan melakukan olah raga yang berat terutama bagi lansia pilih olahraga yang tidak membutuhkan gerakan berlebihan seperti aerobic. Dan tidur di kasur yang padat” ujarnya.

Faktor ergonomis juga berpengaruh terhadap resiko LBP mengingat kebanyakan pegawai bekerja dibelakang meja dan menghadapi komputer. Tips posisi duduk yang baik menurut dr Yenni adalah kepala tidak menunduk, posisi bahu yang santai, posisi punggung yang tertopang, pandangan sejajar dengan komputer, tangan sejajar lengan bawah, gunakan bantalan yang lunak untuk menopang paha bagian bawah, kaki pada bantalan kaki, atur posisi benda dalam jangkauan, dan tinggi monitor sejajar dengan pandangan dan lengan.

Jika terjadi kondisi akut yang harus dilakukan adalah perbanyak istirahat, kompres es, korset,  exercise lebih baik berenang, dan modalitas. Modalitas dapat menggunakan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation, Microwave Diathermy, Infra Red atau Ultrasound Diathermy. Ramalan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi (Prognosis) LBP akut cukup baik, yaitu 60% penderita LBP akut biasanya kembali ke fungsinya semula dalam 1 bulan dan LBP sub akut 90% penderita kembali ke fungsinya dalam 3 bulan, sedangkan penderita LBP kronik sedikit kemungkinan untuk membaik. Untuk mencegah LBP dr Yenni berpesan “agar selalu memperhatikan postur tubuh yang benar, meningkatkan kekuatan dan ketahanan tubuh dapat mencegah terjadinya LBP dan mencegah trauma lebih lanjut. Dan lakukan proteksi pinggang dalam kegiatan atau pekerjaan sehari-hari” tegasnya.

Direktur SDM IPB University, Dr.Ir. Titik Sumarti M.C., M.S. menyampaikan bahwa profil pekerja di IPB yang lebih banyak bekerja di belakang meja dan pekerjaan fisik lainnya membutuhkan keseimbangan agar terhindar dari LBP. “Kegiatan ini merupakan inisiasi proses penyadaran tidak hanya bagi lansia, namun juga tindakan pencegahan lebih awal supaya kita bisa mengantisipasi agar kita bisa bekerja lebih sehat” ujarnya. (YDI)

Keyword : Low Back Pain, LBP, Antisipasi, Nyeri Pinggang, Pegawai IPB University

Andamaru Jayantara IPB University Angkatan 56 Dibekali Ilmu Bela Negara oleh TNI dan POLRI

Masih dalam rangkaian kegiatan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB University, kali ini diselenggarakan TalkShow bertajuk Bela Negara dengan menghadirkan TNI dan POLRI yang bertempat di Grha Widya Wisuda (GWW), Kampus Dramaga Bogor (8/8). Danjen Akademik, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Laksamana Madya Aan Kurnia, Ssos dalam talkshow yang dipandu oleh Presma IPB Tahun 2017 Panji Laksono membahas tentang Nasionalisme dan Generasi Muda. Beliau menyatakan bahwa belajar di IPB juga merupakan wujud bela negara, “karena bela negara tidak hanya dilakukan oleh teman-teman kalian yang belajar di TNI POLRI, tapi kalian dengan disiplin dan belajar yang baik itu juga salah satu bela negara” ujarnya.  Kekayaan alam hayati dan mineral di Indonesia yang berada pada posisi ring of fire dan berbagai ancaman terhadap Indonesia menjadi salah satu topik yang dibahas. Globalisasi dan modernisasi telah menyebabkan kulturisasi yang berkembang saat ini menjadi ancaman dan merusak budaya Indonesia yang sudah hebat.  “kalian sebagai intelektual harus bisa menjadi teladan dan contoh yang baik di lingkungan masing-masing, kalian harus beda dengan saudara-saudara kalian yang tidak mendapat kesempatan kuliah di IPB ini” ujarnya. Beliau juga berpesan kepada mahasiswa IPB yang berjumlah sekitar 4000 orang ini untuk mengembalikan kejayaan Indonesia “kita kembalikan lagi Indonesia menjadi negara yang ramah, yang mampu mempertahankan budaya bangsanya. Menghormati orang tua dan senior kalian. Kalian angkatan 56 harus mampu menjadi contoh dan pelopor dan mampu menularkan kebaikan. Indonesia adalah rumah dan masa depan kalian, jadilah generasi yang terdepan” tegasnya.

Talkshow selanjutnya disampaikan oleh Kabaintelkam Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), Komjen Pol. Drs. Agung Budi Maryanto, MSi yang menyampaikan tentang Merawat Kebhinekaan Dalam Rangka Bela Negara. “IPB merupakan salah satu kampus yang paling maju di Indonesia. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus mampu menjaga agar tidak terjadi perpecahan di Indonesia” ujarnya.  Beliau berpesan agar Mahasiswa IPB harus mampu mengelola agar tidak terjadi konflik diantara sesama, jangan perbesar perbedaannya melainkan angkat persamaannya, “wah dasar orang pertanian, dasar orang teknologi, jangan seperti itu, tapi hei kita sama-sama adalah IPB, itu sebagai contoh” ujarnya. Dalam kesempatan ini beliau membagikan 5 flash card yang masing-masing berisi nominal satu juta rupiah yang diberikan kepada mahasiswa baru yang mampu menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan yaitu tanggal lahir IPB, Moto IPB terbaru, dan jumlah fakultas di IPB. Beliau berpesan agar mahasiswa IPB dapat menjaga persatuan dan tidak mudah menshare informasi yang belum diketahui kebenarannya. “Jika kita tidak bisa bersatu, bangsa kita bisa menjadi seperti yang terjadi di negara-negara yang syarat konflik agama dan perpecahan” tegasnya. Beliau mengajak seluruh mahasiswa IPB University untuk bersama-sama merawat dan menjaga kebhinekaan dalam rangka bela negara dan senantiasa menjaga keutuhan NKRI.

Disela-sela menunggu hadirnya narasumber acara diawali dengan perang jargon antar narendra (pemimpin kelopok jayantara) yang terdiri dari kelompok hijau aruma, kelompok merah megatorka, kelompok biru wastra, kelompok kuning artha, dan kelompok ungu baylimu jayantara. Penamaan Andamaru Jayantara untuk mahasiswa baru angkatan 56 ini memiliki arti filosofis yaitu Andamaru berasal dari kata “Andamar” yang berarti pelita dan “Ru” yang berarti orang yang membawa terang, sedangkan “Jayantara” merupakan singkatan dari “Kejayaan Pertanian Nusantara”. Nama “Andamaru Jayantara” diberikan kepada Angkatan 56 IPB dengan harapan dapat membawa perubahan pada kondisi pertanian Indonesia saat ini, seperti halnya pelita yang menerangi kegelapan sehingga dapat menjadikan pertanian Indonesia mencapai masa kejayaan. Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia, Hidup Pertanian Indonesia. (YDI)

Keyword: Masa Pengenalan Mahasiswa Baru, MPKMB, Bela Negara, Andamaru Jayantara, Hidup Mahasiswa, Pertanian Indonesia Digjaya, Mahasiswa IPB Hebat

Dosen Sekolah Vokasi IPB University Terima Penghargaan Anugerah INOVASI Jawa Barat 2019 melalui Aplikasi mobile Madsaz

Medhanita Dewi Renanti, S.Kom, M.Kom seorang Dosen Sekolah Vokasi IPB University terinspirasi dari kehamilan anak pertamanya untuk mengembangkan aplikasi Madsaz yang dapat menerjemahkan tangis bayi usia 0-3 bulan versi Dunstan Baby Language. Aplikasi ini bisa menerjemahkan 5 jenis tangisan bayi yaitu bayi lapar, bayi lelah atau mengantuk, bayi ingin bersendawa, bayi masuk angin atau perut kembung dan bayi yang tidak nyaman (karena popok basah, udara terlalu panas atau dingin atau hal lain). Tangisan bayi tersebut bersifat universal/sama, meskipun berbeda negara, suku bangsa, dan bahasa.

Dunstan Baby Language merupakan bahasa bayi yang diklasifikasikan oleh Priscilla Dunstan, musisi asal Australia yang mempunyai bakat mengingat semua jenis suara atau yang dikenal dengan sound photograph.  Delapan tahun Priscilla meneliti dari tahun 1998  dan mengumpulkan bayi-bayi dari berbagai negara, suku bangsa,  dan bahasa. Priscilla menemukan suatu bahasa yang sama yang digunakan bayi-bayi tersebut untuk berkomunikasi yang disebut Dunstan Baby Language (DBL).  Klasifikasi DBL antara lain, tangis bayi: “neh” yang berarti lapar, “owh” berarti lelah yang mengindikasikan bayi mulai mengantuk, “eh” berarti ingin sendawa, “eairh” berarti masuk angin (perut kembung), “heh” berarti bayi merasa tidak nyaman (bisa karena popoknya basah, udara terlalu panas atau dingin, atau hal lainnya).

Aplikasi yang dikembangkan Medhanita diujikan pula pada anaknya “Jadi ketika anak saya menangis, saya coba identifikasi kira-kira jika nangisnya seperti ini, bayi ini gini ga ya (sesuai ilmu yang saya dapatkan seminar waktu itu).  Ketika saya sudah belajar DBL, saya merasa lebih pede saja ketika bayi saya menangis, minimal sudah punya dugaan awal mengapa bayi saya menangis. Saya punya tindakan yang tepat ketika bayi saya menangis waktu itu. Awal masuk kuliah saya sudah berdiskusi dengan salah satu dosen S2 Bapak Prof Agus Buono yang pada akhirnya beliau menjadi dosen pembimbing pertama saya untuk tesis. Di awal semester saya sudah mulai mengambil data-data tangis bayi. Sekitar bulan April Tahun 2013, Alhamdulillah software penerjemah tangis versi dekstop berhasil dibuat dengan akurasi 94% (belum android). Waktu itu saya menggunakan 140 tangis bayi sebagai data latih dan 35 tangis bayi sebagai data uji. Setelah saya menyeminarkan aplikasi saya tersebut ternyata banyak teman-teman, saudara-saudara, para mahasiswa, masyarakat yang tertarik terhadap penelitian saya dan meminta supaya cepat dibuatkan versi androidnya. Waktu itu pengujian software dilakukan kepada bayi-bayi saudara-saudara dan teman-teman” ujarnya.  Penemuannya ini banyak mendapat respon postif dari berbagai pihak dan hal ini mendorongnya untuk mengembangkannya dalam versi android di tahun 2014. Setelah melalui berbagai penyempurnaan pada tanggal 2 November 2018 aplikasi tersebut launching perdana di playstore dengan nama Madsaz. “Nama Madsaz diambil dari nama saya, suami, dan anak saya” tambah Dosen yang mengajar Sistem Informasi di Sekolah Vokasi IPB University ini.

Aplikasi Madsaz merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang mampu menerjemahkan tangisan bayi usia 0-3 bulan (bersifat universal walaupun berbeda negara, suku bangsa, dan bahasa) dengan tingkat akurasi hingga 94%. Sedangkan untuk bayi berusia 4 bulan ke atas akan berbeda-beda, tergantung pada lingkungan dan kebudayaan masing-masing. Aplikasi ini GRATIS, bisa diunduh di playstore. Manfaat yang diperoleh adalah: para orang tua yang baru mempunyai anak dapat dengan cepat dan mudah mengetahui arti tangisan bayinya. Hal ini membuat orang tua merasa lebih percaya diri dalam mengasuh bayinya sehingga tingkat stres mereka berkurang signifikan. Di sisi lain, bayi cepat tenang karena orang tua dapat mengambil tindakan yang tepat berdasarkan arti tangisan bayinya. Aplikasi ini tersedia dalam dua bahasa, Indonesia dan English. Cara menggunakan aplikasi ini sangat mudah yaitu dengan menekan tulisan ”REKAM” (IN) atau “RECORD”(EN) ketika bayi menangis. Output/arti tangis bayi akan ditampilkan di layar HP dalam waktu kurang lebih 20 detik setelah proses perekaman (button berwarna pink untuk klasifikasi output yang dihasilkan). Selain menampilkan arti tangis bayi, aplikasi ini akan menampilkan solusi yang dapat dilakukan oleh orang dewasa kepada bayi sesuai dengan klasifikasi tangisannya. Dan sampai saat ini pengunduh sudah mencapai 33.960 dari 109 negara.

Anugerah INOVASI Jawa Barat diraihnya setelah aplikasi mempunyai rating 4,41 dan diunduh oleh berbagai pengguna. Tahap awal pengumpulkan dokumen dilakukan pada 20 Mei 2019. Dari 96 peserta hanya diambil 11 kandidat yang dipilih dan salah satunya adalah Madsaz. Selanjutnya persentasi di lakukan pada tanggal 29 Juni 2019 dan pemenang diumumkan pada tanggal 1 Agustus. Madsaz meraih pemenang anugerah inovasi (pemenang bersama diambil 3 orang, jadi bukan juara 1,2,3).

Kedepan Medhanita berharap aplikasi ini akan dikembangkan dalam 6 bahasa (saat ini baru 2 ada bahasa Indonesia dan Inggris), memperbaiki akurasi dengan menggunakan metode yang berbeda, membuat device, dan mengombinasikan image dan voice recognition. “Nilai strategis dari aplikasi yang saya kembangkan ini adalah masyarakat akan lebih mengenal inovasi IPB University lebih jauh tentang perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam pengembangan ilmu pertanian dalam arti luas menghadapi revolusi industri 4.0” tegasnya. (YDI)

 

Keyword :
Aplikasi Android, Madsaz, Identifikasi Tangis Bayi, Kecerdasan Buatan, Dosen IPB University, Sekolah Vokasi

 

 

 

Kontribusi IPB University dalam Pembangunan Kota Bogor sebagai Kota Keluarga

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB Univeristy menggelar Seminar Internasional bertema The 2nd International Seminar on Family and Consumer Issues in Asia Pacific (ISFCI) pada tanggal 5-6 Agustus 2019 bertempat di Ruang Kuliah Gedung C Sekolah Bisnis (SB), IPB University.

Acara yang dihadiri oleh peserta dari Indonesia, Malaysia, Korea dan Jepang ini dibuka oleh Walikota Bogor, Bima Arya. Dalam sambutannya Walikota Bogor sangat  bangga dengan prestasi yang dicapai IPB University saat ini dan sangat mendukung acara yang akan melahirkan kontribusi dalam pembangunan ketahanan keluarga. “Kota Bogor saat ini sedang mengembangkan Program Sekolah Ibu yang merupakan kerjasama dengan Fakultas Ekologi Manusia dibawah pimpinan Prof. Ujang Sumarwan beserta timnya. Dimana program ini mengumpulkan ribuan ibu-ibu di Bogor dengan tujuan untuk memperkuat ketahanan keluarga. Sekolah Ibu dibuat untuk menyelamatkan keluarga dari permasalahan sekaligus meningkatkan kapasitas ibu dalam mengurus rumah tangga dan mendidik putra-putri mereka and dealing with her husband too. Berbicara tentang keluarga tidak hanya membahas infrastruktur melainkan ada faktor lain yang harus diperhatikan yaitu aspek spikologis keluarga” ujarnya. Beliau mengatakan bahwa Sekolah Ibu merupakan langkah awal mewujudkan Bogor sebagai Kota Ramah Keluarga dan Kota Ramah Anak. Di penghujung sambutannya Bima Arya mengundang seluruh peserta dan narasumber untuk menikmati fasilitas yang tersedia di Bogor, termasuk wisata kulinernya seperti soto bogor, roti unyil, asinan, toge bogor, dan jajanan khas Bogor lainnya. Penyuka olahraga lari ini pun mengundang peserta untuk lari bersama di lapangan sempur dan Kebun Raya Bogor.

Narasumber yang dihadirkan dalam seminar nasional ini adalah para pengajar dan praktisi ilmu keluarga dan konsumen dari beberapa negara. Yasuyuki Takahashi dari University of Niigata Prefecture, Jepang membahas tentang Challenging Child Issues in Japan dan Dr Youjeong Park dari Seoul National University membahas tentang Challenging Child Issues in South Korea. Sesi ini dimoderatori oleh Dr Dwi Hastuti dosen Departemen IKK FEMA IPB University. Pada sesi berikutnya pembicara dari University Putra Malaysia Profesor Tengku Aizan dan Dr Jaerim Lee dari Seoul National University membahas tentang Challenging Familiy Issues in Malaysia dan South Korea. Sesi ini dimoderatori oleh Dr Muslihah dari University Putra Malaysia (UPM). Sesi terakhir menghadirkan Dekan FEMA IPB University Prof Ujang Sumarwan dan Prof John Brady, T. PhD dari Seoul National University membahas tentang Challenging Consumer Issues in Indonesia dan Global.

Dekan FEMA, Prof. Ujang Sumarwan dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghimpun para pakar bidang studi keluarga, perkembangan anak, dan konsumen. Diharapkan muncul pemikiran-pemikiran bagaimana membantu keluarga dan anggota keluarga untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul di era digital. Sering kali keluarga tidak memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Bantuan dari berbagai pihak dan salah satunya adalah dari para pakar sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan dalam keluarga.

Kiprah IPB University dalam mendukung kota Bogor sebagai Kota Keluarga menjadi salah satu program yang dilakukan oleh FEMA melalui dialog-dialog keilmuan dengan Pemerintah Kota Bogor. “Bogor ini menjadi salah satu kota yang sangat responsif untuk pembangunan keluarga dalam visinya. Saya fikir ini unik, kemungkinan Bogor ini satu-satunya kota di Indonesia yang secara tegas menempatkan keluarga dalam visinya. Dalam berbagai aspek semua pembangunan dilihat dari sudut kacamata keluarga” tambahnya. (YDI)

© 2020 Yulia Dwi Indriani

Theme by Anders NorenUp ↑